Art & Soul

by Sasriana Octavinia

Usaha Perbaikan Gizi Keluarga

Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK)

 ImageUPGK adalah usaha perbaikan gizi masyarakat yang berintikan penyuluhan gizi melalui peningkatan peran serta masyarakat dan didukung kegiatan yang bersifat lintas sektoral dan dilaksanakan oleh berbagai sector terkait. Secara rinci UPGK merupakan usaha keluarga untuk memperbaiki gizi seluruh anggota keluarga, dilaksanakan oleh keluarga dan masyarakat dengan kader sebagai penggerak masyarakat, merupakan bagian dari kehidupan keluarga sehari-hari dan secara operasional adalah rangkaian kegiatan yang saling mendukung untuk melaksanakan alih teknologi sederhana kepada keluarga/masyarakat (Departemen Kesehatan RI, 1990).

Tujuan umum dari UPGK adalah untuk meningkatkan dan membina keadaan gizi anggota masyarakat, melalui pembinaan keluarga agar peningkatan gizi menjadi bagian dari pola kehidupan sehari-hari. Secara operasional tujuan ini diperinci menjadi tujuan khusus yaitu : partisipasi dan pemerataan kegiatan, perubahan sikap dan perilaku yang mendukung tercapainya perbaikan gizi, serta perbaikan gizi anak balita (Departemen Kesehatan RI, 1990).

Wahana kegiatan UPGK adalah Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Hal ini berlangsung sejak tahun 1985-1986 dengan pertimbangan untuk efisiensi dan efektivitas program. Posyandu adalah pos pelayanan terpadu KB kesehatan, yang dikelola dan diselenggarakan untuk dan oleh masyarakat, dengan dukungan teknis dari petugas, dalah rangka pencapaian norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera (Warta Posyandu, 1989).

Tujuan dari Posyandu dalam booklet Posyandu 1986 adalah :

  1. Mempercepat penurunan angka kematian bayi, anak balita dan angka kelahiran.
  2. Mempercepat penerimaan norma keluarga kecil bahagia sejahtera (NKKBS).
  3. Agar masyarakat dapat mengembangkan kegiatan kesehatan dan kegiatan lainnya yang menunjang, sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya.

Perjalanan Posyandu dari tahun ke tahun mengalami peningkatan angka pencapaian namun hasil yang telah dicapai masih dipandang belum sesuai dengan kondisi yang diharapkan. Beberapa penyebab diantaranya adalah presepsi masyarakat terhadap Posyandu masih belum mantap. Mereka mengartikan bahwa Posyandu adalah program pemerintah yang dilakukan oleh petugas pemerintah yang dibantu masyarakat dan hanya diperuntukkan bagi masyarakat yang kurang mampu dan kader yang kurang memahami peranannya sebagai motivator dan penyuluh di Posyandu. Selain itu masyarakat belum sepenuhnya mendukung kegiatan Posyandu, sumberdaya dan dana masyarakat belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk mendukung kemandirian Posyandu. Adanya kader yang tidak aktif menyebabkan beban kader yang aktif menjadi bertambah berat (Warta Posyandu, 1989).

Di Posyandu diperkenalkan berbagai inovasi yang berkenaan dengan pemeliharaan kesehatan dan keadaan gizi balita, ibu hamil dan menyusui. Adapun kegiatannya adalah penimbangan anak balita, pemberian paket pertolongan gizi (yang berisi Vitamin A dosis tinggi, pil zat besi dan oralit), pemberian makanan tambahan, imunisasi, pemeriksaan ibu hamil, pelayanan KB dan penyuluhan gizi.

  • Penyuluhan Gizi dalam Upaya Meningkatkan Pengetahuan Gizi Ibu

Penyuluhan adalah suatu system pendidikan diluar sekolah, dimana sasaran

penyuluhan belajar sambil berbuat untuk menjadi tahu, mau dan bisa menyelesaikan sendiri masalah – masalah yang dihadapinya secara baik, menguntungkan dan memuaskan (Wiriatmadja, 1990).

Proses penyuluhan mempunyai tahapan – tahapan sebagai berikut, menarik perhatian; yaitu menikbulkan perhatian atau kesadaran pada pihak sasaran tentang adanya sesuatu hal yang baru. Menggugah hati, yaitu menimbulkan perasaan terbuka pada sasaran untuk sesuatu yang baru disadarinya tadi. Membangkitkan keinginan, yaitu menumbuhkan kengininan untuk memperoleh atau mengerjakan cara baru yang dianjurkan itu. Meyakinkan; yaitu menghilangkan rasa ragu – ragu pada sasaran, sehingga terjadi keyakinan akan kebaikan dan manfaat hal baru itu. Menggerakkan, yaitu mengusahakan agar anjuran yang telah diberikan itu sekarang oleh sasaran dilaksanakan atau dipraktekkan secara luas dan kontinyu (Wiriatmadja, 1990).

Penyuluhan termasuk system pendidikan nonformal yang dilakukan bagi keluarga dan masyarakat tertentu. Menurut Guhardja (1979), pendidikan nonformal adalah pendidikan diluar pendidikan formal yang diselenggarakan berdasarkan kebutuhan masyarakat serta sesuai yang dikehendaki.

Kegiatan pendidikan nonformal melalui program UPGK merupakan salah satu usaha untuk mengatasi masalah gizi. Pendidikan gizi yang ditujukan kepada wanita merupakan strategi yang ampuh dalam usaha menanggulangi masalah gizi (Kusin dan Kardjati, 1985). Oleh karena itu sasaran utama dalam pendidikan gizi adalah ibu – ibu rumah tangga (Sajogjo, Suhardjo dan Khumaidi, 1978).

Menurut Wiriatmadja (1990), indikasi – indikasi keberhasilan penyuluhan adalah sebagai berikut: pada tahap kesadaran atau penghayatan (awareness), sasaran sudah maklum atau menghayati suatu hal yang baru. Pada tahap minat (interest), sasaran mulai ingin mengetahui lebih banyak perihal yang baru itu. Pada tahap penilaian (evaluation), sasaran mulai berpikir – piker dan menilai keterangan – keterangan perihal yang baru itu. Pada tahap percobaan (trial), sasaran sudah mulai mencoba – coba dalam arti luas dan jumlah yang sedikit atau kecil saja. Pada tahap penerimaan (adoption), sasaran sudah yakin akan kebenaran atau keunggulan hal yang baru itu. Maka ia menerapkan anjuran secara lebih luas dan kontinyu.

Hasil dari penyuluhan gizi diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan ibu – ibu rumah tangga dalam mencukupi kebutuhan gizi keluarganya melalui konsumsi makanan yang memenuhi kebutuhan – kebutuhan zat – zat gizi anggota keluarganya, yang pada gilirannya tampak pada status gizinya (Departement Kesehatan RI, 1989).

Menurut Sastrapradja (1983) bahwa kecukupan pangan dan gizi masyarakat ditentukan oleh taraf pengetahuannya terhadap pangan. Kemudian dikatakan bahwa kemampuan berdaya beli tidak selalu diimbangi oleh pengertian akan gizi yang baik. Akibatnya meskipun daya beli terjangkau, penyakit gizi seperti kekurangan kalori dan protein akan tetap menjadi masalah.

Masalah gizi dan hal – hal yang berhubungan dengan perbaikan gizi melibatkan berbagai aspek kehidupan terutama aspek pangan dan penyedian pangan. Akan tetapi tersedianya pangan yang cukup dalam keluarga atau masyarakat belum tentu dapat menjamin bahwa kebutuhan zat gizi sudah terpenuhi. Salah satu hal yang turut mempengaruhi adalah pengetahuan dalam hal memilih dan menyediakan makanan bergizi tinggi (Tim IPB, 1980).

Kurangnya pengetahuan dan salah konsepsi tentang kebutuhan pangan adalah umum di setiap Negara. Sebab lain dari gangguan gizi adalah kurangnya kemampuan untuk menerapkan informasi tersebut kedalam kehidupan sehari – hari (Harper, Deaton dan Driskel, 1982).

  • Faktor – faktor yang Mempengaruhi Konsumsi Pangan

Konsumsi pangan dipengaruhi banyak factor, pemilihan jenis maupun banyaknya pangan yang dimakan dapat berlainan dari setiap individu atau masyarakat. Menurut Suhardjo (1985), factor – factor yang nampaknya sangat mempengaruhi konsumsi pangan dimana saja di dunia adalah: jenis dan banyaknya pangan yang di produksi dan tersedia, tingkat pendapatan dan tingkat pendidikan gizi.

Tarwojto, Muhilal, Abunain, Soekirman dan Karyadi (1979) menyatakan, konsumsi makanan merupakan factor utama untuk memenuhi kebutuhan tubuh akan zat gizi. Konsumsi makanan itu sendiri dipengaruhi oleh berbagai factor yang saling berkaitan secara komplek seperti tersedianya pangan, status ekonomi, segi social budaya serta status kesehatan. Pramudya (1991) mengatakan, pada dasarnya konsumsi makanan dipengaruhi oleh factor – factor internal dan eksternal. Faktor internal adalah factor yang ada dalam diri manusia seperti emosi, kebiasaan dan tabu, pendidikan, jenis kelamin, umur, jenis kegiatan dan factor kesehatan. Faktor eksternal yaitu ketersediaan pangan – pangan termasuk pengaruh musim dan ekologi, daya beli dan lain – lain.

Kebiasaan makan menurut Guthe dan Mead (1945) adalah cara individu atau sekelompok individu dalam memilih, mengkonsumsi dan menggunakan pangan yang tersedia berdasarkan factor social dan budaya dimana mereka hidup. Sedangkan menurut Suhardjo (1989), kebiasaan makan merupakan gejala social yang dapat member gambaran perilaku niali – nilai yang di anut seseorang atau kelompok masyarakat.

Dalam hal member dan mengatur makan anak, tidak jarang dipengaruhi kebiasaan orang tua. Bagi yang baru mempunyai anak, kebijaksanaan dalam hal menentukan makanan seringkali ditentukan oleh nenek atau orang yang dianggap tua dalam keluarga, Karen dianggap lebih berpengalaman. Tidak heran bila adat dan kebiasaan makan yang di anut oleh orang tua menurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Seperti pantang dan tabu terhadap makanan tertentu adalah warisan dari generasi sebelumnya. Itulah sebabnya mengapa kebiasaan dan susunan hidangan sangat kuat bertahan terhadap berbagai pengaruh yang mungkin dapat merubahnya. Kebiasaan makan seseorang merupakan kebiasaan makan keluarga karena individu tersebut selama tinggal didalam keluarganya, terus mengalami proses belajar seumur hidupnya dari keluarga tersebut (Sediaoetama, 1989).

Hal lain yang mempengaruhi jumlah makanan yang dikonsumsi individu dan keluarga menurut Enoch (1981) adalah susunan anggota keluarga. Dalam laporan penelitiannya, Widodo (1984) mengatakan bahwa jumlah anggota keluarga yang semakin besar menyebabkan semakin sulit mengatur pembagian makanan secara merata.

Konsumsi pangan keluarga dapat diketahui dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Secara kuantitatif, dapat didekati dari jumlah pangan yang dikonsumsi, sedangkan secara kualitatif dapat didekati dari pola pangannya. Pola pangan seseorang atau sekelompok orang diketahui dari jenis – jenis pangan tertentu yang dikonsumsi dan frekuensi penggunannya (Tan, Abunain, Suharjo, Sukirman dan Karyadi, 1970).

Pendapatan merupakan factor yang secara tidak langsung mempengaruhi konsumsi pangan, tetapi termasuk penentu utama baik buruknya keadaan gizi seseorang, atau sekelompok orang. Pendapatan yang rendah mengakibatkan daya beli untuk konsumsi makanan rendah (Tarwojto, dkk., 1979).

Lebih lanjut Sajogjo, Suhardjo dan Khumaidi (1978) mengemukakan bahwa rendahnya pendapatan diduga membawa akibat pada pemberian makanan yang kurang banyak dan kurang bermutu. Selain itu rendahnya pendapatan merupakan rintangan yang menyebabkan orang tidak mampu membeli makanan dalam jumlah yang diperlukan.

Menurut Berg (1985), penghasilan merupakan factor penting bagi kualitas dan kuantitas makanan, antara penghasilan dengan gizi jelas ada hubungan yang menguntungkan. Dengan meningkatnya pendapatan penduduk, memungkinkan mereka dapat membeli bermacam – macam jenis bahan makanan sesuai dengan kebutuhan masing – masing agar dapat mempertahankan kesehatan secara optimal. Selanjutnya Berg (1986) juga mengatakan di Negara – Negara berkembang, orang – orang miskin hampir membelanjakan pendapatannya melulu untuk makanan. Uang yang berlebih biasanya berarti susunan makanan akan lebih baik. Bila orang miskin bertambah pendapatannya, maka biasanya mereka akan menghabiskan sebagian besar pengeluaran dan pendapatannya itu untuk menambah makanan. Keadaan ini sesuai dengan Hukum Bennet (Hardinsyah dan Suhardjo, 1987) yang berbunyi bahwa presentase bahan pangan pokok berpati dalam konsumsi pangan rumah tangga semakin berkurang dengan meningkatnya pendapatan rumah tangga dan cenderung beralih pada pangan yang berernergi lebih mahal.

Terdapat hubungan yang nyata antara tingkat pendapatan rumah tangga dengan tingkat konsumsi gizi. Tingkat kecukupan gizi ditentukan oleh tingkat kecukupan pangan, dimana keluarga terjamin konsumsi pangannya pada tingkat kebutuhannya (Sajogjo, 1975).

Hasil Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi tahun 1978 menyebutkan bahwa rendahnya tingkat pendapatan menambah rintangan untuk mencapai kecukupan gizi (LIPI, 1979).

  • Faktor – faktor yang Mempengaruhi Status Gizi

Status gizi adalah keadaan fisik tubuh yang merupakan akibat konsumsi, absorpsi dan penggunaan zat – zat gizi oleh tubuh (Harper dkk,. 1982). Jumlah makanan yang tidak memenuhi kebutuhan sehari – hari secara langsung akan menimbulkan masalah gizi kurang (Tarwojto d,. 1979). Demikian pula yang dikatakan Khumaidi (1985), bahwa konsumsi makanan yang tidak memadai sesuai dengan kebutuhan tubuh baik kuantitas maupun kualitas akan menimbulkan masalah gizi.

Enoch (1976) mengatakan bahwa terdapat hubungan antara pola konsumsi pangan dengan status gizi yaitu pola konsumsi pangan dapat menunjukkan apa yang dikonsumsi seseorang. Namun dari hasil penelitian pola konsumsi tidak merupakan hasil yang secara langsung menggambarkan status gizi, sebab status gizi dipengaruhi oleh beberapa factor, dan status gizi dapat merupakan akibat dari konsumsi sebelumnya. Selain konsumsi pangan, factor lain yang berperan sangat penting terhadap keadaan gizi adalah penyakit infeksi. Konsumsi makanan dan penyakit infeksi keduanya merupakan penyebab langsung konsumsi energy dan protein, hal ini dikemukakan oleh Levinson tahun 1974 (Husaini, 1989).

Menurut Latham (1974) berbagai factor lain yang menetukan status gizi seseorang yaitu tingkat pertumbuhan, keadaan kesehatan, kebiasaan makan, cara pengolahan pangan dan factor social budaya. Status gizi yang cukup, penting bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

  • KESIMPULAN

Secara rinci UPGK merupakan usaha keluarga untuk memperbaiki gizi seluruh anggota keluarga, dilaksanakan oleh keluarga dan masyarakat dengan kader sebagai penggerak masyarakat, merupakan bagian dari kehidupan keluarga sehari-hari dan secara operasional adalah rangkaian kegiatan yang saling mendukung untuk melaksanakan alih teknologi sederhana kepada keluarga/masyarakat.

  • PENDAPAT

Menurut saya kecukupan gizi sangat penting untuk masyarakat terutama kaum balita dan anak – anak dibawah umur. Peran Pemerintah dan Departement Kesehatan sangat berpengaruh pada kecukupan gizi sehari – hari keluarga dan masyarakat dimana akan mewujudkan Negara yang sehat dan jauh dari penyakit gizi buruk yang saat ini sedang marak diperbincangkan dikalangan media.

Sumber :

Penulisan Ilmiah dari : Ir. Iis Ikhlasiah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 29, 2012 by .
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: